Kamis, 11 Oktober 2012

Ekstrak Kayu Teras Suren (Toona sinensis Roemor)

Suren merupakan jenis pohon hutan rakyat yang berpotensi untuk dikembangkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Suren mengandung senyawa yang berpotensi sebagai bahan baku obat khususnya obat kanker. Namun, penelusuran pustaka belum menemukan penelitian isolasi senyawa anti kanker dari bagian kayunya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji bioaktivitas ekstrak kayu teras Suren (T. sinensis) hasil ekstraksi maserasi berkesinambungan dan fraksi hasil fraksinasi ekstrak teraktif berdasarkan uji Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) serta menentukan profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) melalui analisis fitokimia kualitatif untuk mengetahui jenis dan jumlah kelompok senyawa yang terkandung pada fraksi aktifnya. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kayu teras Suren yang diperoleh dari desa Cibadak, Sukabumi dengan diameter 22 cm. Bahan diekstrak dengan metode maserasi dan fraksinasi dengan menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan metanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat kayu teras Suren memiliki bioaktivitas lebih tinggi dibandingkan ekstrak metanol dan n-heksannya. Ekstrak etil asetat tergolong sangat toksik (LC50 3,90 μg/ml), ekstrak metanol toksik (LC50 70,30 μg/ml), dan ekstrak n-heksan toksik (LC50 149,12 μg/ml). Fraksinasi ekstrak etil asetat kayu teras Suren menghasilkan 9 fraksi dengan 3 fraksi aktif (tergolong sangat toksik), yaitu fraksi 1 (LC50 5,39 μg/ml), fraksi 2 (LC50 <10 μg/ml), dan fraksi 5 (LC50 6,27 μg/ml). Profil KLT fraksi aktif menunjukkan bahwa fraksi 1 minimal mengandung 7 senyawa yang terdiri dari steroid, triterpen, dan fenolik. Fraksi 2 minimal mengandung 8 senyawa yang terdiri dari steroid, triterpen, dan fenolik. Fraksi 5 minimal mengandung 13 senyawa yang terdiri dari steroid, triterpen, flavonoid dan fenolik.

Bagaimana cara menguji bioaktivitas ekstrak kayu teras Suren (T. sinensis)?????????

7 komentar:

  1. Menurut Meyer et al. (1982), uji bioaktivitas menggunakan larva udang Artemia salina Leach dikenal dengan istilah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

    Uji mortalitas larva udang merupakan salah satu metode uji bioaktivitas pada penelitian senyawa bahan alam. Penggunaan larva udang untuk kepentingan studi bioaktivitas sudah dilakukan sejak tahun 1956 dan sejak saat itu telah banyak
    dilakukan pada studi lingkungan, toksisitas dan penapisan senyawa bioaktif dari jaringan tanaman. Uji ini merupakan uji pendahuluan untuk mengamati aktivitas farmakologi suatu senyawa. Adapun penerapan untuk sistem bioaktivitas dengan menggunakan larva udang tersebut, antara lain untuk mengetahui residu pestisida, anastetik lokal, senyawa turunan morpin, mikotoksin, karsinogenitas suatu senyawa dan polutan untuk air laut serta sebagai alternatif metode yang murah untuk uji sitotoksisitas (Hamburger & Hostettmann 1991). Senyawa aktif yang memiliki daya bioaktivitas tinggi diketahui berdasarkan nilai Lethal Concentration 50% (LC50), yaitu suatu nilai yang menunjukkan konsentrasi zat toksik yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sampai 50%. Data mortalitas yang diperoleh kemudian diolah dengan analisis probit yang dirumuskan oleh Finney (1971) untuk menentukan nilai LC50 pada derajat kepercayaan 95%. Senyawa kimia memiliki potensi bioaktif jika mempunyai nilai LC50 kurang dari 1.000 μg/ml (Meyer et al. 1982).

    Uji BSLT dengan menggunakan larva udang A. salina dilakukan dengan menetaskan telur-telur tersebut dalam air laut yang dibantu dengan aerasi. Telur A. salina akan menetas sempurna menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva A. Salina yang baik digunakan untuk uji BSLT adalah yang berumur 48 jam sebab jika lebih dari 48 jam dikhawatirkan kematian A. salina bukan disebabkan toksisitas ekstrak melainkan oleh terbatasnya persediaan makanan (Meyer et al. 1982). Kista ini berbentuk bulatan-bulatan kecil berwarna kelabu kecoklatan dengan diameter berkisar 200-300 μm. Kista berkualitas baik, apabila diinkubasi dalam air berkadar garam 5-70 permil akan menetas sekitar 18-24 jam. A. salina yang baru menetas disebut nauplius, berwarna orange, berbentuk bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 0,002 mg. Nauplius berangsur-angsur mengalami perkembangan dan perubahan morfologis dengan 15 kali pergantian kulit hingga menjadi dewasa. Pada setiap pergantian kulit disebut instar (Mudjiman 1995).
    Keunggulan penggunaan larva udang A. salina untuk uji BSLT ini ialah sifatnya yang peka terhadap bahan uji, waktu siklus hidup yang lebih cepat, mudah dibiakkan dan harganya yang murah. Sifat peka A. salina kemungkinan disebabkan oleh keadaan membran kulitnya yang sangat tipis sehingga memungkinkan terjadinya difusi zat dari lingkungan yang mempengaruhi metabolisme dalam tubuhnya. A. salina ditemukan hampir pada seluruh permukaan perairan di bumi yang memiliki kisaran salinitas 10-20 g/l, hal inilah yang menyebabkannya mudah dibiakkan. Larva yang baru saja menetas berbentuk bulat lonjong dan berwarna kemerah-merahan dengan panjang 400 μm dengan berat 15 μg. Anggota badannya terdiri dari sepasang sungut kecil (anteluena atau antena I) dan sepasang sungut besar (antena atau antena II). Di bagian depan di antara kedua sungut kecil tersebut terdapat bintik merah yang berfungsi sebagai mata (oselus). Di belakang sungut besarnya terdapat sepasang mandibula (rahang) yang kecil, sedangkan di bagian perut (ventral) sebelah depan terdapat labrum (Mudjiman 1983).

    BalasHapus
  2. Uji Bioaktivitas dengan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

    Pengujian BSLT diawali dengan penetesan larva, dengan cara menempatkan telur dalam kotak penetesan yang telah berisi air laut selama 2 hari. Kemudian dilakukan penyiapan larutan ekstrak uji. Pengujian dilakukan 4 variasi konsentrasi, yaitu 1.000 ppm, 500 ppm, 100 ppm, dan 10 ppm. Variasi konsentrasi tersebut diperoleh dari pengenceran larutan induk yang memiliki konsentrasi 2.000 ppm. Larutan induk dibuat dengan melarutkan 30 mg ekstrak kering dalam 15 ml air laut, bila contoh uji sukar larut ditambahkan 4-5 tetes DMSO sebelum penambahan air laut. Dari larutan induk dilakukan pengenceran hingga didapat konsentrasi 200 ppm, yaitu dengan melarutkan 1,5 ml larutan induk dalam air laut sampai 15 ml. Larutan dengan konsentrasi 100 ppm didapat dari larutan dengan konsentrasi 200 ppm pada saat pengujian. Larutan dengan konsentrasi 200 ppm diencerkan hingga didapat konsentrasi 20 ppm dengan cara yang sama. Larutan dengan konsentrasi 10 ppm didapat dari larutan konsentrasi 20 ppm pada saat pengujian. Larutan induk juga diencerkan untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 1.000 ppm, yaitu dengan melarutkan 5 ml larutan 1.000 ppm dalam air laut hingga 10 ml. Larutan 1.000 ppm akan digunankan untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 500 ppm pada saat pengujian.
    Pengujian bioaktivitas dilakukan dengan memasukkan 20 ekor larva udang ke dalam tabung reaksi dalam 2,5 ml air laut dan ditambahkan 2,5 ml larutan uji. Setiap konsentrasi larutan uji dilakukan 3 kali pengulangan. Pada control juga dilakukan penambahan DMSO untuk mengetahui pengaruhnya. Setelah 1 hari (24 jam) dilakukan pengamatan dengan cara menghitung jumlah larva yang mati dan yang hidup.

    BalasHapus
  3. Salah satu uji pendahuluan aktivitas anti kanker zat ekstraktif adalah uji bioaktivitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) terhadap larva udang Artemia Salina Leach. Metode ini dipilih karena murah, cepat, mudah dan dapat dipercaya (Meyer et al. 1982). Percobaan yang dilakukan untuk menentukan kadar ekstrak etanol bagian kayu teras, kayu gubal, daun, dan ranting suren beureum (T. sinensis) yang diekstrak dengan teknik ekstraksi yang berbeda (maserasi dan sokletasi), serta menguji bioaktivitas ekstraknya terhadap larva udang A. salina melalui pengujian BSLT dan mengetahui pengaruh perbedaan bagian pohon serta metode ekstraksi terhadap kadar ekstrak dan bioaktivitasnya.
    Percobaan ini menggunakan bahan baku berupa bagian kayu teras, kayu gubal, daun, dan ranting Suren beureum (Toona sinensis Roemor) yang diekstrak dengan metode maserasi dan sokletasi menggunakan pelarut etanol. Fraksinasi dilakukan pada ekstrak etanol bagian pohon suren beureum teraktif hasil uji BSLT dengan menggunakan pelarut n-heksana dan etil asetat. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini ada dua, yaitu kadar zat ekstraktif dan bioaktivitas. Data zat ekstraktif diolah dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial RAL dan dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan. Data bioaktivitas diolah dengan menggunakan analisis probit untuk mendapatkan nilai LC50.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian daun suren beureum menghasilkan kadar ekstrak tertinggi, diikuti bagian ranting, bagian kayu teras, dan bagian kayu gubal. Metode ekstraksi maserasi menghasilkan ekstrak etanol dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan sokletasi. Ekstrak etanol kayu teras memiliki bioaktivitas tertinggi, diikuti ekstrak kayu gubal, ekstrak daun, dan ekstrak ranting. Metode ekstraksi maserasi menghasilkan ekstrak etanol dengan bioaktivitas lebih tinggi dibandingkan metode sokletasi. Hasil fraksinasi terhadap ekstrak etanol kayu teras suren beureum menghasilkan rendemen tertinggi pada fraksi etil asetat, diikuti fraksi residu, dan fraksi n-heksana. Bioaktivitas tertinggi terdapat pada fraksi n-heksana, diikuti fraksi etil asetat, dan fraksi residu.

    BalasHapus
  4. Uji Bioaktivitas dengan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) kayu teras suren
    Ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi pelarut aseton, n-heksana dan etil asetat kemudian diuji bioaktivitasnya dengan menggunakan larva udang. Telur udang ditetaskan di dalam gelas piala ukuran 1 l yang diisi air laut dilengkapi dengan aerator dan lampu penerangan dan dalam 24 jam telur akan menetas menjadi larva udang kemudian dilakukan penyiapan larutan ekstrak uji. Pengujian dilakukan dengan 6 variasi konsentrasi, yaitu 1.000 ppm, 500 ppm, 200 ppm, 100 ppm, 20 ppm dan 10 ppm. Untuk membuat berbagai konsentrasi ekstrak maka terlebih dulu membuat larutan induk ekstrak 2.000 ppm dengan cara : sebanyak 10 mg ekstrak kering dilarutkan dalam 5 μl aseton dan tambahkan air laut hingga menjadi 5 ml larutan ekstrak untuk mendapatkan kadar 2.000 ppm larutan induk. Dari larutan induk ekstrak tersebut dipipet 500, 250, 100, 50, 10, 5 μl ke dalam vial sehingga konsentrasi ekstrak menjadi 1.000, 500, 200, 100, 20, 10 μg/ml (ppm) setelah ditambahkan air laut hingga 1 ml. Sebelum dimasukkan larutan ekstrak dan air laut, terlebih dahulu dimasukkan larva udang sebanyak 10 ekor ke dalam vial, hal ini dilakukan agar konsentrasi tepat dan udang tidak mendapat konsentrasi larutan yang terlalu tinggi sebelum penambahan air laut hingga 1 ml. Setiap ekstrak dari tiap pohon diuji dan ditambah 1 kontrol, sehingga ada 3 contoh uji dan 1 kontrol. Kontrol dikerjakan tanpa penambahan ekstrak. Setiap konsentrasi dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali sehingga 1 jenis ekstrak terdapat 6 ulangan. Setelah 1 hari (24 jam) dilakukan pengamatan dengan cara menghitung jumlah larva udang yang mati, kemudian dihitung mortalitasnya.

    BalasHapus
  5. berdasarkan uji bioaktivitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
    Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kadar ekstrak etanol bagian kayu teras, kayu gubal, daun, dan ranting suren beureum (T. sinensis) yang diekstrak dengan teknik ekstraksi yang berbeda (maserasi dan sokletasi), serta menguji bioaktivitas ekstraknya terhadap larva udang A. salina melalui pengujian BSLT.Penelitian ini menggunakan bahan baku berupa bagian kayu teras, kayu gubal, daun, dan ranting Suren beureum (Toona sinensis Roemor) yang diekstrak dengan metode maserasi dan sokletasi menggunakan pelarut etanol.
    Hasil fraksinasi terhadap ekstrak etanol kayu teras suren beureum menghasilkan rendemen tertinggi pada fraksi etil asetat, diikuti fraksi residu, dan fraksi n-heksana. Bioaktivitas tertinggi terdapat pada fraksi n-heksana, diikuti fraksi etil asetat, dan fraksi residu.

    BalasHapus
  6. Apakah fungsi dari penambahan DMSO??? Apakah uji BSLT bisa dilakukan tanpa penambahan DMSo???

    BalasHapus
  7. Apakah fungsi dari penambahan DMSO??? Apakah uji BSLT bisa dilakukan tanpa penambahan DMSo???

    BalasHapus