Senyawa Flavanoid pada Sayuran indigenous
Indonesia merupakan negara yang kaya akan tanaman-tanaman lokal yang memiliki potensi yang baik. Tanaman lokal di Indonesia banyak yang belum terjamah untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan yang kaya akan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan. Jenis sayuran lokal tersebut sering disebut dan dikenal dengan sayuran indigenous. Sayuran indigenous adalah sejenis sayuran, yang walaupun tanaman sayuran itu bukan berasal dari Indonesia, namun tanaman tersebut sudah beradaptasi dan sudah dikultivasi atau dimanfaatkan oleh penduduk setempat dari dahulu, sehingga sudah dianggap sebagai tanaman turun-temurun.
Sayuran sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itulah, Jawa Barat menjadi salah satu daerah di Indonesia penghasil sayuran yang cukup berperan. Berbagai tanaman indigenous telah dikonsumsi dan secara tradisional ditanam oleh nenek moyang secara turun temurun, dengan khasiat yang baik bagi tubuh manusia.
Jenis sayuran yang digunakan pada penelitian ini adalah sayuran yang telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan yang banyak terdapat di daerah Jawa Barat yaitu kenikir (Cosmos caudatus H.B.K.), beluntas (Pluchea indica Less.), mangkokan (Nothopanax scutellarium), kecombrang (Nicolaia speciosa Horan), kemangi (Ocimum sanctum Linn.), katuk (Sauropus androgynus), kedondong cina (Polyscias innata), antanan (Centella asiatica), pohpohan (Pilea trinervia), daun ginseng (Talinum paniculatum), dan krokot (Portulaca oleracea). Bagian yang dikonsumsi dari tanaman kenikir, beluntas, mangkokan, kemangi, katuk, kedondong cina, pohpohan, dan daun ginseng adalah bagian daunnya. Lainhalnya dengan krokot, karena selain daunnya, batang tanamannya juga biasa dikonsumsi. Berbeda lagi dengan kecombrang, karena bagian yang dikonsumsi dari tanaman ini adalah bunganya. Seluruh bagian tanaman dari antanan merupakan bagian yang dikonsumsi dari tanaman ini. Seperti telah diketahui, komponen fenolik dalam bahan pangan memiliki peran yang sangat baik, yang salah satunya adalah sebagai antioksidan.
Menurut Markham (1989) yang dikutip oleh Hertog et al. (a) (1992), sayur-sayuran memiliki potensi yang baik dalam kontribusi terhadap kandungan flavonoidnya. Tumbuh-tumbuhan banyak mengandung senyawa fenolik yang berupa flavonoid, yang terdistribusi secara luas pada bagian- bagiannya. Penelitian-penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa flavonoid dapat berfungsi sebagai antioksidan, antimutagenik, dan antikarsinogenik (Hertog et al. (b), 1992).
Oleh karena itu, dengan diketahuinya kandungan flavonoid pada tanaman-tanaman indigenous tersebut, diharapkan dapat tercipta peluang untuk meningkatkan nilai tambah alam pemanfaatannya. Flavonoid terutama terdiri atas antosianidin, flavonol, flavone,flavanol, flavanone, dan isoflavon (Spencer et al., 2003). Komponen flavonoid yang dianalisis pada penelitian ini adalah golongan flavonol dan flavone. Senyawa yang dianalisis dari golongan flavonol terdiri atas quercetin, kaempferol, dan myricetin, sedangkan dari golongan flavone terdiri atas apigenin dan luteolin. Pengidentifikasian dibatasi hanya pada kedua golongan ini, dikarenakan kedua golongan senyawa ini merupakan komponen flavonoid yang mayoritas (secara kualitatif) terdapat dalam sayuran (Lee, 2000). Selain itu, kedua golongan senyawa ini merupakan flavonoid yang paling banyak diteliti dalam studi antikarsinogenesis (Hertog et al. (b), 1992).
Bagaimana mendeteksi kandungan komponen-komponen flavonoid (flavonol dan flavone) pada beberapa sayuran indigenous?
Identifikasi flavonoid pada sayuran dilakukan dengan menggunakan fase gerak 25% acetonitril dalam buffer fosfat 0.025M. laju alirannya adalah 0.9 ml/menit. Sampel yang akan diidentifikasi akan melewati kolom Nova-Pak C18, yang memiliki dimensi (150 x 3.9-mm ID). Detektor yang digunakan yaitu Linear Model 204 UV-Vis detector (Hertog et al., (a) (1992).
BalasHapus