Jeruk
"Grapefruit" Bikin Langsing
|
|
Jeruk grapefruit dapat menjadi pilihan karena mengandung flavonoid (senyawa kimia alami yang berguna meningkatkan sistem kekebalan tubuh).
- Pektin, serat larut yang membantu mengurangi kadar kolesterol di dalam darah
- Bioflavonoid, menghambat kerja hormon yang mendukung pertumbuhan tumor dan sel kanker
- likopen, sejenis antioksidan yang mampu menghambat pertumbuhan kanker prostat. Banyak terdapat pada grapefruit berwarna merah
- Phenolic acid, menghambat pembentukan nitrosamin penyebab kanker
- Limonoid, terpen, dan monoterpen, menyebabkan produksi enzim yang membantu mencegah kanker
- Naringenin, membantu mengurangi kadar kolesterol di dalam darah
- Zat besi, membantu pembentukan sel-sel darah merah
- Kalsium, membantu pembentukan tulang yang kuat
- Potasium dan magnesium, merupakan elektrolit di dalam tubuh
- Alpha dan betakaroten, membantu menjaga kesehatan mata dan kulit
- Vitamin C, menjaga sistem imun di dalam tubuh
- Asam folat, mencegah keguguran pada janin
- Asam amino, membantu kekuatan otot-otot tubuh
- Vitamin B1 (tiamin), membantu proses metabolisme di dalam tubuh
- Vitamin B6, menjaga kekuatan sistem saraf dan otak.
Jenis-jenis grapefruit
Di pasaran grapefruit tersedia dalam dua jenis, yaitu yang berwarna pink atau merah dan kuning.
Perbedaannya terletak pada warna kulit dan daging buahnya. Mengenai rasa, tidak terlalu jauh berbeda. Keduanya memiliki after taste (rasa yang tertinggal di lidah) berupa rasa kesat.
Saat ini juga sudah dapat ditemukan jus grapefruit dalam kemasan dan food supplement berbahan dasar grapefruit. Lebih praktis memang. Tetapi, efek penurunan berat badan terbesar tetap ada pada buah grapefruit yang belum diolah.
Menurunkan kadar insulin
Beberapa tahun lalu banyak pihak yang menyimpulkan bahwa grapefruit memiliki efek thermogenic (menghasilkan panas tubuh), sehingga dapat mempercepat proses pembakaran lemak di dalam tubuh. Menurut hasil uji coba yang dimuat dalam American Journal of Physiology, gula dalam bentuk fruktosa, seperti yang terdapat dalam buah-buahan, memiliki efek thermogenic yang lebih tinggi dibandingkan glukosa, seperti yang terdapat dalam berbagai jenis karbohidrat.
Namun, asumsi tersebut bergeser saat dipublikasikannya hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ken Fujioka dari Pusat Penelitian Nutrisi dan Metabolisme, Scripps Clinic, San Diego, Amerika Serikat. Fujioka melakukan studi terhadap 100 orang dewasa yang mengalami obesitas. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu yang mengkonsumsi setengah buah grapefruit setiap sebelum makan, segelas jus grapefruit setiap sebelum makan, dan tidak mengkonsumsi grapefruit sama sekali. Selama 12 minggu para partisipan tidak mengalami perubahan yang berarti dalam hal pola makan dan olahraga.
Setelah 12 minggu, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: kelompok pertama dan kedua mengalami penurunan berat badan masing-masing 1,8 kg dan 1,6 kg serta mengalami penurunan kadar insulin dibandingkan sebelum penelitian. Sedangkan kelompok ketiga yang tidak mengkonsumsi grapefruit sama sekali hanya mengalami penurunan berat badan kurang dari 0,5 kg dan kadar insulinnya tidak mengalami perubahan yang berarti. Para peneliti menduga, insulinlah yang berperan dalam membantu menurunkan berat badan.
Bila dengan obat-obatan
Secara garis besar diet ini relatif aman bagi Anda yang sehat. Jika sedang menjalani pengobatan, dan minum obat tertentu, Anda disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum
berdiet. Beberapa senyawa di dalam grapefruit diketahui dapat mengganggu kerja beberapa jenis obat, seperti obat penurun tekanan darah, penurun kadar kolesterol, penenang, dan antivirus, la menghambat enzim di dalam usus yang bertugas sebagai pemecah alami dan penyerap berbagai bahan aktif dalam obat-obatan tersebut. Diduga komponen flavonoid dan atau furanocoumarin menjadi biang keladi penghambat kerja enzim tersebut.
Akibatnya, tekanan darah tetap saja akan meningkat. Anda yang memiliki masalah obesitas dianjurkan untuk melakukan diet ini bersamaan dengan usaha penurunan berat badan lainnya, seperti berolahraga dan mengatur pola makan. Dengan begitu, bobot tubuh yang Anda harapkan akan lebih cepat tercapai dibandingkan Jika Anda hanya mengkonsumsi grapefruit. Anda tak perlu memaksakan diri untuk langsung mengkonsumsi buah ini. ’Berkenalan’ saja dulu dengan rasa baru ini secara perlahan-lahan. Sekarang buah ini bisa diperoleh di supermarket-supermarket besar, sebagai hasil perkebunan grapefruit di Nusa Tenggara Barat milik Samawa Citrus. Jeruk ini mulai dipanen dari bulan Mei hingga September.
Sebuah penelitian menemukan, jeruk Grapefruit adalah salah satu makanan yang mampu membantu program penurunan berat badan. Menurut kajian data dari tahun 2003-2008, rata-rata wanita yang mengonsumsi sejumlah porsi tertentu jeruk Grapefruit atau jus jeruk Grapefruit mengalami penurunan berat sampai 4,5 kilogram, dan Indeks Massa Tubuh atau BMI nya lebih rendah 6 persen dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi jeruk Grapefruit.
1. Apakah mengekstraksi/ mengidentifikasi flavanoid pada buah jeruk Grapefruit dapat dilakukan dengan metode analisis High Performance Liquid Chromatography (HPLC)?
2. Bagaimana Struktur Flavanoid atau furanocoumarin dapat menghambat kerja enzim?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEkstraksi Senyawa Flavonoid dengan HPLC.
HapusTahap ekstraksi sampel diawali dengan pelarutan sebanyak 0.500
atau 1.000 gram sampel kering beku ke dalam 40 ml metanol 62,5%.
Kemudian ditambahkan 10 ml HCl 6M lalu direfluks selama satu jam
pada suhu 50oC. tujuan penambahan asam ini adalah untuk menjaga
komponen agar tidak terdegradasi dan perefluksan untuk hidrolisis asam
guna memotong gula. Gula yang menempel pada flavonoid dapat
mengganggu pemisahan komponen, sehingga ikatan tersebut perlu
dipotong. Setelah didinginkan ditambahkan kembali metanol sampai
volume larutan menjadi 100 ml. sebanyak dua milliliter larutan disaring
dengan filter Syringe berdiameter 0.45 μm, dan sampel tersebut telah
siap untuk diinjeksikan ke kolom HPLC.
Analisis Flavonoid dengan HPLC
a. Pembuatan larutan Standar Tunggal (Hertog et al., 1992(a))
Sebanyak 1.5 mg standar yang tersedia dilarutkan dalam 3 ml metanol
62.5%, sehingga diperoleh standar stock dengan konsentrasi 500
μg/ml. Setelah itu, 2.5 ml dari standar stock dilarutkan dalam 20 ml
metanol 62.5%. Kemudian dicampurkan dengan 5 ml HCl 6M untuk
menjaga kondisi asamnya supaya komponen flavonoid tersebut tidak
terdegradasi. Penambahan metanol dilakukan hingga volume
mencapai 50 ml, sehingga konsentrasi yang diperoleh adalah 25
μg/ml. larutan standar yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas
lima konsentrasi, yaitu 0.5, 2.5, 10, 20, dan 25 μg/ml. pembuatan
larutan standar dengan konsentrasi 0.5, 2.5, 10, 20 μg/ml dilakukan
dengan melakukan pengenceran dari larutan standar yang memilik
konsentrasi 25 μg/ml.
analisis vitamin c dengan hplc.
BalasHapusKromatografi merupakan suatu cara pemisahan fisik dengan unsur-unsur yang akan dipisahkan terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk suatu lapisan stasioner dengan luas permukaanyang besar dan yang lainnya merupakan cairan yang merembes lewat atau melalui lapisan yang stasioner. Fasa stasioner mugkin suatu zat padat atau suatu cairan, dan fasa yang bergerak mungkin suatu cairan atau suatu gas. Maka semua jenis kromatografi yang dikenal, terbagi menjadi empat golongan: cair-padat, gas-padat, cair-cair, dan gas-cair (Underwood, 1986).
Pembahasan teknik kromatografi modern baru lengkap bila disebut kromatografi cairan penampilan tinggi (HPLC). Kromatografi cairan kolom klasik merupakan prosedur pemisahan yang sudah mapan dalam mana fase cair yang mobil mengalir lambat-lambat lewat kolom karena gravitasi. Umumnya metode itu dicirikan oleh efisiensi kolom yang rendah dan waktu pemisahan yang lama. Namun sejak kira-kira tahun 1969, perhatian dalam teknik kolom cairan hidup kembali dengan sangat menyolok karena dikembangkannya sistem tekanan tinggi oleh Kirchland dan Huber,yang bekerja pada tekanan sampai 2,07 x 10 7 Nm-2 (3000 p.s.i). Dalam metode ini digunakan kolom berdiameter kecil (1-3 mm) dengan partikel pendukung berukuran sekitar 30 ?m dan eluen dipompakan ke dalamnya dengan laju aliryang tinggi (sekitar 1-5 cm 3m-1). Pemisahan dengan metode ini dilakukan jauh lebih cepat (sekitar 100 kali lebih cepat) daripada dengan kromatografi cairan yang biasa. Meskipun peralatan yang tersedia di pasar dewasa ini agak mahal. HPLC telah terbukti luas penggunaannya dalam kimia organik. Pengembangan penerapan dalam anorganik menjadi mungkin, misalnya dalam bidang kromatografi pertukaran ion di mana telah tersedia dipasar dengan nama dagang ‘Zipax’ resin peliklar, yakni resin yang dihasilkan dalam bentuk saluran tipis pada permukaan manik kaca yang blat (diameter 2050 mikrometer). Manik-manik itu mempunyai permukaan berpori yang tebalnya 2 mikrometer yang berperan sebagai pengikat saluran resin itu (Bassett et. all., 1994).
Bila dibandingkan terhadap kromatografi gas-cair/gas-liquid chromatography (GLC), maka HPLC lebih bermanfaat untuk isolasi zat tidak mudah menguap, demikian juga zat yang secara termal tidak stabil. Tetapi ditinjau dari kecepatan dan kesederhanaan, GC lebih baik. Kedua teknik ini komplementer satu sama lainnya, keduanya efisien, sangat selektif hanya memerlukan sampel berjumlah sedikit serta keduanya dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Khopkar, 2003).
Susunan kimia vitamin C ditemukan pada tahun 1933 oleh ilmuwan Inggris dan Swiss. Isolasi asam askorbat mula-mula ditemukan oleh King dari USA dan Szent-Gyorgy dari Hungaria. Vitamin ini mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk oksidasi (bentuk dehydro) dan bentuk reduksi. Kedua bentuk ini mempunyai aktivitas biologi. Dalam makanan bentuk reduksiyang terbanyak. Banyak dehydro dapat terus teroksidasi menjadi diketogulonic acid yang inaktif.
Susunan vitamin C
Keadaan vitamin C inaktif ini sering terjadi pada proses pemanasan (bila sayur-sayuran dimasak). Di dalam suasana asam vitamin ini lebih stabil daripada dalam basayang menjadi inaktif (diketogulonic acid) (Prawirokusumo, 1991).
Contoh –contoh senyawa fenol adalah Lignan, Neolignan, Lignin, Stilbena, Naftokinon, Antrakinon, Flavonoid, Antosian, Tanin, Kumarin, Kromon & Xanton. salah satu contoh diatas adalah flavonoid.
BalasHapuslangkah kerja dlam mengekstraksinya dapat dilihat pada komentar merlijun wahida di atas.
Penelitian berbagai metoda penentuan fenol dan turunannya (disebut senyawa fenol) dalam air dengan kromatografi cairan kinerja tinggi (KCKT) telah banyak dilakukan baik secara langsung maupun melalui derivatisasi. Penentuan secara langsung masih kurang peka dengan tingkat pemisahan yang rendah, terutama untuk senyawa fenol dengan kepolaran yang hampir sama. Untuk memperbaiki tingkat pemisahan dapat dilakukan dengan mengganti fasa diam, baik jenis maupun ukuran, serta mengubah komposisi dan jenis fasa gerak. Kepekaan dapat dinaikkan dengan mengubah detektor atau melakukan pemekatan, baik dengan ekstraksi cair-cair maupun padat-cair. Denvatisasi biasanya digabung dengan ekstraksi, sehingga dapat memperbaiki tingkat pernisahan dan menaikkan kepekaan. Beberapa pereaksi telah digunakan untuk keperluan derivatisasi senyawa fenol pada analisis secara KCKT. Pereaksi iod manobror.n:ida. (IBr), te1a12 digurrakan pada penentuan fenol total seeara spektrofotometri. Pereaksi tersebut lebih baik dari pada 4-amino antipirin. Pereaksi 4-amino antipirin tidak dapat bereaksi dengan senyawa fenol yang tersubtitusi para. Berdasarkan penelitian tersebut, pada penelitian ini telah dikaji lebih lanjut penggunaan IBr pada penentuan campuran senyawa fenol dalam air, secara KCKT. Senyawa fenol dalam air diekstraksi menggunakan pereaksi IBr claim fasa organik, kemudian ditentukan seem. KCKi. Hasil reaksi senyawa fenol dengan IBr disebut derivat senyawa fenol. Pada tahap ekstraksi, telah dipelajari mekanisme ekstraksi derivatisasi, pengaruh variabel tetap dan variabel eksperimen terhadap angka banding distribusi (D).
HPLC merupakan metode yang paling mendekati untuk dapat menyediakan dan memberikan respon yang tepat, baik dalam sensivitas tinggi maupun dalam hal efisiensi pemisahan karena menggunakan kolom berpartikel kecil terbungkus yang ketat. selain itu deteksi komponen dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas, bila dibandingkan dengan HPLC membutuhkan konsentrasi yang lebih besar. pada analisis dengan metode HPLC, tidak ada pembatasan dalam hal volatilitas sampel maupun derivatisasi, seperti yang diperlukan dalam kromatografi gas. komponen flavonoid merupakan komponen volatil, oleh karena itu analisis yang tepat adalah dengan menggunakan HPLC
BalasHapus